Kata kunci

 

Password

Password

Saya kehilangan password. Tidaaaaak!!!

But, tidak apalah… semua telah berakhir.  Kini saatnya menuju jalan yang baru.  Yang lalu telah tertinggalkan.  Saatnya tersenyum. 🙂

Habiiiis kebanyakan siiech ‘tempat saya berekspresi’. So, gitu dech jadinya.  Beberapa kata kunci masih saya inget.  Dan untuk yang terlupakan, mohon maaf yaa.  Engkau belum terjamah lagi.  Hehehee.  Yang penting  happy. 😀

Mmm.. bagaimana pula dengan kehidupan yang sedang kita jalani kini, yaa. Ketika sejenak saja kita belum mengingat lagi ‘kata kunci’ kehidupan, apa yang akan terjadi?  Astaghfirullaahal’adziim.  Semua dalam kuasa Illahi.  Hanya kita perlu menyadari.  Bahwa hari ini hadir untuk mengingatkan kita, dimana ‘kata kunci’ kehidupan ini kita simpan, yaa.  Adakah masih setia menemani diri?  Yang dapat kita gunakan setiap kali kita membutuhkannya. Ya, agar kita dapat masuk ke kedamaian hari-hari.  Kapanpun kita berkemauan.

Ya, Rabb… bimbinglah kami selalu, untuk senantiasa ingat kepada-Mu.  Agar kami menemukan arti hidup ini.  Betapa berharganya detik demi detik yang sedang kami jalani, bersama-Mu.  Aamin ya Rabbal’alamiin.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

Kronologi Short Message Service dan 100.000 D-U-I-T

 

Do'a - Usaha - Ikhlas - Tawakkal (“Do Unify Idea Technology”)

Do'a - Usaha - Ikhlas - Tawakkal (“Do Unify Idea Technology”)

Saya sangat ingin bertemu dengan Ibu, Bapak dan keluarga bahagia.  Setelah sekian lama kita tiada bersua.  Semenjak perpisahan kita pagi itu, 17 September 2010.  Lama yaa.. Kangeen sangat pada beliau-beliau semua.  Namun, untuk sementara waktu, raga hanya mampu berikhtiar dengan segenap daya.  Fikir berusaha menemukan peluang dan waktu terbaik untuk sebuah pertemuan.  Sedangkan hati, terus saja bertanya: “Kapan kita ke Jakarta?” Sahabatku begitu rindu, kiranya.  Ya, hati. Ia selalu berkata jujur.  Ia terus saja bertanya.  “Hehee, yang sabar ya friend,” berulangkali saya berusaha menenangkannya.  Agar ia kembali tersenyum, menemaniku mengisi waktu demi waktu.

2011-02-26…..

Gagal ikut test, audisi hari ini untuk menjadi artis.  Demi mengurai kerinduan, bersama keluarga bahagia.  Dago, at 11.56 s.d 13.02. Siang yang begitu menyengat.  Untuk suasana hati yang bergemuruh. RINDU. Ya, demikian lebih tepatnya. Hanya waktu-waktu bersama angka-angka tersebut yang terekam dalam file catatanku.  Namun di hatiku, seluruh waktu adalah berharga.  Ia begitu bermakna.  Tiada yang mampu membayar harganya, dengan apapun juga.  Ia mahal.  Sure.

Neng Titih cantik.  Salah seorang sahabatku, bersedia membuang-buang waktu beliau untuk mengantarkanku berkeliling ria di bawah panas terik.  Dik Ima yang masih belia pun kita ajak jalan kaki beberapa ratus meter untuk dapat sampai ke tempat tujuan.  Saya merasakan beliau sangat lelah… letih… cape’… pegel juga kali yaa.  Seperti yang saya alami. 😀 Hehee. Hari yang berkesan.  Sungguh bermakna.  Akan tetapi, atas nama perjuangan, ia meluber bersama tetesan keringat yang membanjiri tubuh.  😀 Wah! Ini hiperbola.  Engga segitunya kaliii.  Kan kita jalannya di bawah rerindang pepohonan. Iya, kan Neng Titih?  Jadi, rasanya damai, sejuk dan adem.

Neng Titih, jasa-jasamu ituuuuu…. Dik Ima, senyuman ceria masa kanak-kanakmu, menyentuh sekitarmu. Trim’s yaa. ^^

Namun, ada satu pesan yang saya petik dari kejadian tersebut.  “Sesuatu, kalau kita cari-cari, begitu tidak mudah bagi kita untuk menemukannya.  Ia bersembunyi.  Begini ya?”. Perlu lebih banyak beristighfar dalam menjalaninya.  “Agar kita dapat memetik hikmah di setiap detik waktu yang sedang kita jalani.”

Then, mengapa kita berjalan kaki di siang terik?  Oleh-oleh.  Ya, saya bersama Neng Titih dan Dik Ima, berjuang keras untuk menemukan di mana oleh-oleh yang kita maksud berada.  Ya, sebagai buah tangan untuk saya bawa pulang ke kota.  Hari ini.  Setelah sekian lama mencari, akhirnya kita menemukannya.  Dengan segenggam syukur berurai senyuman, saya pun membawa oleh-oleh seadanya, buat Ibu dan keluarga bahagia. Ya, hanya oleh-oleh yang sederhana.  Namun, ini sangat berarti.  Karena untuk mendapatkannya, membutuhkan proses yang meninggalkan kesan.

Keesokan harinya…..

Me :

Assalamu’alaikum, Bapak.. Alhamdulillah, ananda sudah sampai di Bdg.  Terima kasih ya Bap, ^^.

Bap :

Yo.. Semoga sukses. 27-02-2011 at 18.23; Bp Ad (keluarga bahagia group)

Me :

Iya Bap, Aamin ya Rabb… *.smile.*

Me :

Assalamu’alaikum, Ibu… Alhamdulillah, ananda sudah sampai di Bdg, Bu.  Terima kasih ya Bu,

Ibu :

Iyaaaa… 27-02-2011 at 17.38; Ibunda (keluarga bahagia group)

Me :

*.smile.*

Sebelum berangkat, Ibu menitipi saya banyak perbekalan.  Senyuman beliau yang terbungkus indah di lembaran  hari-hariku. Termasuk 100.000 D-U-I-T yang beliau selipkan di kedua telapak tangan ini.  Saya menerimanya dengan senang hati.  Terima kasih ya Ibu.  Saya selalu mengingatnya.  Bukan hanya di hari ini, namun selamanya.  Menerima, yaa.. saya masih menerima.  Namun saya yakin, dunia berputar selalu.  Tidak selamanya kita mesti menerima.  Perlu waktu untuk dapat memberi.  Dan saya sangat menikmati proses untuk menuju pada waktu-waktu tersebut.  Saya ingin juga memberi.  Seperti yang Ibunda dan Bapak teladankan.  Beliau senang berbagi.  Ya, sangaaat senang.  Saya dapat menangkap rasa bahagia itu pada tatapan beliau yang berbinar-binar setiap kali beliau sukses memberi.  Lalu, senyuman kembali menghiasi halaman wajah-wajah beliau.  Iya, beliau bahagia karena beliau banyak memberi.  Saya salut dengan beliau.  Saya menyayangi beliau.  Saya ingin lebih sering memberi, seperti beliau-beliau semua.  Mudahkanlah ya Rabb.  Aamin ya Rabbal’alamiin.

🙂 🙂 🙂

Mentaripun tersenyum (10)

Kun(l)tum

Kun(l)tum

(Suara dari kebun; still dreaming of you)

Ya, begini ini nich, efek dari banyak membaca. Dapat menimbulkan berbagai tanya di hati. Kemudian berbuah unek-unek yang memenuhi fikir ini. Hingga memenuhi seluruh ruang kehidupan. 😀 Dahsyat! Yaa.. akibat membaca itu. Terkadang ia membuat kita (saya aja kali yaa… :D) kembali berfikir lebih dalam. Lalu, pada suatu waktu menjadi tersengguk-sengguk karena pilu. Dan pada kesempatan yang lain, saya dapat pula tertawa bebas lalu tersenyum manis. Hingga ngedip-ngedipin mata saking terharunya.

Karena pernah suatu hari saya membaca beberapa bait kalimat. Begini:

Perbanyaklah membaca. Apa saja yang penting bermanfaat. Kemudian petiklah intisari dari bacaan yang baru saja kita baca dan renungkanlah… Guna menambah pengetahuanmu dalam suatu hal. Setelah membaca, terbukalah pandangan, pikiran kembali fresh dan ilmu pun bertambah. Dengan demikian, aktivitas membaca dapat menjadi jalan bagi kita untuk lebih dewasa dalam berpikir. Selain itu, membaca juga dapat membantu kita untuk memiliki kemantapan dalam mengambil tindakan. Dengan membaca, pengalaman pun bertambah, iya kan..? ~.^

Dalam mengambil suatu tindakan, janganlah asal ikut-ikutan saja. Akan tetapi, mempertimbangkan terlebih dahulu dengan hati bersama pikiran yang jernih, tentu lebih menyenangkan. Atau dapat pula minta pendapat dari orang lain. Bermusyawarahlah. Boleh jadi, sesama dapat memberikan ide-ide yang sangat berarti. Semoga kita selalu dalam bimbingan-Nya.

:=: “BUDAYAKAN MEMBACA DALAM HIDUPMU. INSYA ALLAH BERTAMBAH PENGETAHUANMU. MUDAH-MUDAHAN KEHIDUPAN YANG SEDANG ENGKAU JALANI MENJADI LEBIH MUDAH DAN PENUH DENGAN MAKNA. JANGAN TAKUT PADA SIAPAPUN MANUSIANYA. AKAN TETAPI SEGANILAH DAN HARGAILAH MEREKA. AGAR TIMBUL KEBERANIANMU. INNALLAHA MA’ANA.” :=:

Lalu, saya pun membaca barisan kalimat yang ini:

“Seorang tokoh Yahudi mengatakan “Kami tidak akan pernah takut kepada umat Islam. Karena mereka bukan umat yang membaca”. Semoga ini bisa menjadi cambuk bagi kita, untuk selalu terus semangat dalam membaca dan kemudian mengaplikasikannya.”

Aamin ya Rabbal’alamiin. 🙂

***

Sebenarnya sich… emang begitu.  Namun apa boleh buat. Kalimat-kalimat tersebut telah tersusun indah. Dan saya membacanya pula. Ini telah terjadi.  Kini kita hanya dapat tersenyum menyaksikannya.  Ya, menikmati dengan sepenuh hati atas apa yang alam-Nya sampaikan.  Lalu, kembali berupaya mengenali lebih dalam lagi.

Meski hanya dua baris kata. Namun sebagai insan sosial, kita memiliki tanggung jawab terhadapnya.  Karena yang menyampaikan ini adalah ia, saudara kita juga.  Ia adalah bagian dari sahabat kita.  Sahabat yang telah mengenalkan kita, tentang kehidupan ini.  Hingga melalui sang-sahabat tersebut, kita dapat menjalani hari ini dengan taburan cinta di hati.  Yes! Indahnya hidup ini.  Ketika kita begitu mudahnya untuk mau saling berbagi.

Saya lebih lega. Ketika selesai membacanya. Setidaknya, kelegaan yang saya alami saat ini, menjadi bukti betapa pentingnya saling mengingatkan. Bukan hanya untuk saudara-saudari kita yang sedarah saja. Namun, siapa saja ia, mesti kita perlakukan dengan sebijak-bijaknya. Ini bukan untuk mempercampuradukkan keyakinan. Namun untuk mengenali makna toleransi. Di mana ia kita tempatkan?

Ketika kita sedang membaca kalimat-kalimat yang perlu untuk dihayati, akan lebih baik kiranya yaa… ketika kita saling memahami. Hingga akhirnya, saya kembali merenungi. Inikah kehidupan? Yang realitanya membuat saya kembali berusaha dan berupaya keras untuk berfikir. Ya, kembali saya terusik dengan satu kata “toleransi”. Untuk masalah keyakinan, memang kita berbeda. Ini realita yang saya alami kini. Realita yang seperti sebuah permainan. Namun, memang itulah yang terjadi. Keinginan yang saya harapkan masih dalam mimpi. Sedangkan yang terjadi lain lagi. Dunia oh dunia. Terima kasih atas warna-warnimu, yaa….  😀

Namun demikian, sebenarnya di alam mimpi saya memiliki harapan yang jelas. Timbulnya rasa, setiap kali saya berfikir. Lalu menghadirkan sebuah tanya. Apakah mungkin, ia menjadi bagian dalam perjalanan kehidupanku ini? Dalam suasana percaya, rasa simpati terkirimkan padanya. Dan masih dalam harapan yang sama, saya bermimpi pula. Semoga benar, yaa. Ia tercipta untuk melengkapi hidupku ini. Bila saatnya telah tiba. Terkadang pula, fikir menyahut bersama tanya. Apakah ia sedang mengingatiku? Hanya ALLAH YANG MAHA MENGETAHUI. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu menjaganya.

Untuk saat ini, mari, kita menjalani aktivitas kita masing-masing. Berteman do’a-do’a terbaik, agar kelak kita ‘bertemu’. Siapakah ia sebenarnya? Saya kembali bertanya. ^^ Apakah ia menyadari, ada yang memimpikannya…? Hingga akhir-akhir ini, ia dan bayangannya senantiasa menemani hari-hariku. Kepribadiannya, pandangannya yang tiada terlihat, hanya terbayangkan. Berikut suara dan tutur sapa beriringan dengan senyuman tulus. Mengagumkan sangat. Sungguh. Selain masih banyak lagi hal-hal positif yang tiada terlihat nyata. Namun memancar dari sosok beliau. Alhamdulillahirabbil’alamin, bersyukur pada-Mu YAA ALLAH. Yang telah memberi kesempatan padaku untuk memimpikan sesosok insan, hamba-MU.

Walaupun sebenarnya ia bukan tercipta untukku, tiada mengapa. Dalam yakinku masih ada harapan. Bahwa ALLAH subhanahu wa ta’ala sedang menyiapkan hamba yang terbaik-NYA. Karena ku menyadari, bahwa penentu segalanya adalah DIA. Dapat mengimpikan saja, merupakan anugerah terindah dari-NYA. Memang, hingga saat ini kita belum bertemu. Tentu saja ada berjuta-juta rasa yang muncul. Bahkan tiada dapat dihitung hanya dengan angka-angka. Namun, kelegaan dan kedamaian kembali menemani. Setiap kali adzan berkumandang syahdu. Setiap kali sang Mu’adzin menyampaikan panggilan yang bersahutan dari seluruh pelosok negeri. Lalu, kita pun memenuhi panggilan tersebut dengan segera. Kembali untuk mengingati-NYA.

Biarlah kita belum berjumpa untuk saat ini. Agar ada cerita tersendiri dalam impianku ini. Inilah jalanku. Mengambil sebagian waktu untuk mengimpikannya, dengan caraku. Sungguh! Hari-hariku menjadi lebih berarti dengan cara ini. Ya, tentu saja atas skenario-NYA. Sang Sutradara kehidupanku. ^^

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched. They must be felt within the heart.” (Helen Keller)

🙂 🙂 🙂

Therapy, alami ^_^

 

Rumah tempat belajar

Tempat belajar *.^

Ketika engkau merasakan harimu begitu teduh, tersenyumlah…

Ketika engkau menemukan hatimu dalam kedamaian, tersenyumlah…

Ketika engkau melihat usahamu berbuah hasil, tersenyumlah…

Karena senyuman adalah teman berbagimu,

hanya senyum…

 

Ketika engkau betul-betul merasakan kehidupan ini begitu keras, tersenyumlah…

Ketika engkau memang merasakan kepahitan, tersenyumlah…

Ketika engkau alami kegetiran yang begitu menyesak dada, tersenyumlah…

Karena senyuman perlu menghiasi wajahmu,

hanya senyum…

 

Ketika engkau begitu terluka, periiiih, merana… ? 😀 tersenyumlah…

Ketika engkau mendengarkan suara-suara itu cukup membisingkan pendengaranmu, tersenyumlah…

Ketika kecepatan itu memaksamu untuk mengikutinya, tersenyumlah…

Karena senyuman itu sangat membantumu,

hanya senyum…

 

Ketika engkau masih berkesempatan menghirup segarnya udara pagi, tersenyumlah…

Ketika engkau masih menatap cerahnya hari ini, tersenyumlah…

Ketika engkau masih menantang teriknya mentari, tersenyumlah…

Karena alam sekitar membutuhkan senyumanmu,

hanya senyum…

 

Ketika engkau sedang menjalani hari-harimu, tersenyumlah…

Ketika engkau sedang melangkah dengan yakin, tersenyumlah…

Ketika engkau memberi, tersenyumlah…

Karena hari esok menunggumu,

hanya senyum…

 

Ketika engkau telah berniat murni, suci, dari hati, tersenyumlah…

Ketika engkau siap melangkah pasti, tersenyumlah…

Ketika sanubarimu bercengkerama bersama bening, tersenyumlah…

Karena ia penasihatmu,

hanya senyum…

 

Ketika sosokmu begitu gagah, tersenyumlah…

Ketika engkau ingin tertawa, heheheheee… tersenyumlah…

Ketika fikirmu begitu bebas menerawang cakrawala, tersenyumlah…

Karena senyuman pengendali ceriamu,

hanya senyum…

 

Ketika rasamu kekal mengabadi, tersenyumlah…

Ketika fikirmu terjalin mewujud tali temali, tersenyumlah…

Ketika fisikmu sangat ingin bergerak pergi, tersenyumlah…

karena mereka adalah penguatmu,

hanya senyum…

 

Oia, kehadiran saya saat ini hanya untuk ber-theraphy ria. Karena sebelum mampir ke sini, perlahan, rasa, fikir, dan tubuh ini begitu moody. Entahlah… engga tau juga yaa… kenapa jadi begini? Aha! What’s wrong with me? Astaghfirullaahal’adziim. Namun, saya begitu peduli padanya.  Then I came here. Untuk meneraphynya sejenak. Yach inilah buktinya. Baru saja saya merangkai kata. Dalam rangka mengungkap rasa untuk meluruhkan keunikannya. Hingga sang jiwa kembali seperti sediakala. Sentosa.

Ya, saya sangat ingin mencerahkannya. Setiap kali ia mendadak berbeda dari biasanya.  Lalu, terjadilah semua ini. Saya mencoretinya dengan beraneka susunan kata. Hahaa… 😀 jadinya, tertawa dech setelah saya membacanya kembali.

Sungguh, kebun ini cukup membantuku. Insya Allah, di lain kesempatan yang lebih bermakna, saya kembali ke sini dengan membawa rangkaian bunga-bunga senyuman terbaik. Karena saya sangat ingin menanam benih-benih senyuman di sini, lebih banyak lagi. Aamin ya Rabbal’alamiin.

Dan saat ini, saya telah membawa kembali senyuman-senyuman terbaik. Untuk menjadi teman dalam mengisi hari. Senangnyaaaa…. hatiku. Harunyaaaaa…. bersamamu. Terima kasih yaa. ^^

***

“Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata kata”. (Iwan fals)

🙂 🙂 🙂

Mentaripun tersenyum (9)

Ini bukan mentari yaa... ^^

Ini bukan mentari yaa... ^^

Bahagiaaa rasanya. Setiap kali berada, berkumpul, lalu bertumbuh bersama orang-orang yang senantiasa berpikir optimis. Pun, beliau-beliau senantiasa bersikap positif dan memenuhi wajah dengan senyuman. Setelah bening-bening mutiara itu membanjirinya. Sehingga, sayapun ingiiin sangat menjadi seperti itu. Namun, terkadang kita begitu mudah untuk belum menyadarinya. Padahal, sesungguhnya, beliau-beliau begitu dekat dengan kita. Iya. Sure.

Lalu, siapa sih, yang sangat dekat dengan kita?

Saya yakin, setiap kita pasti memiliki jawaban masing-masing. Termasuk saya. Saya memiliki persepsi pula tentang hal ini. Karena saya sangat percaya, bahwa ada yang senantiasa dekat dengan saya, tentunya. Karena kita-kita ini, berbeda, so siapa yang lebih dekat denganmu, hayoo…?!  😀

Lalu, untuk beliau-beliau yang saat ini berada jauh dengan kita, bukan berarti kita tidak saling mengingat. Termasuk saya, yang saat ini berada jauh dengan beliau-beliau semua dalam hal raga. Ya, raga kita berbatas oleh jarak. Namun, ketika kita begitu sangat inginnya untuk bersama, maka terjadilah kebersamaan ini.

Oleh karena itu, dalam rangka mempererat jalinan kebersamaan yang telah tercipta. Maka saya ingin menitipkan beberapa bait kalimat yang saya petik dari beliau-beliau yang bersahaja. Iya, selain bersahaja, beliau pun rela berbagi. Meski hanya lewat barisan-barisan kalimat yang berjejer. Namun saya merasakan bahwa di sana ada keoptimisan, sikap positif, dan tentu saja senyuman. Selain itu, saya melakukan ini adalah demi kedekatan kita. Iya, agar kebersamaan ini terus bertumbuh. Makanya, saya menanamnya pula di sini. Kemudian memupuknya, hingga bersubur. Semoga berbuah hasil yang terbaik. Hingga mampu pula mensenyumkan beliau-beliau.

Oiya, sebenarnya, saya punya satu alasan lain. Yaitu, sebagai salah satu cita yang saya cipta dalam menebarkan cinta yang terus bersemi di dalam hati. Izinkan saya memetiknya yaa, lalu menanamnya sebagai benih-benih senyuman di kebun kata-kata ini. Karena ia bermakna dan mengingatkan, for me specially.

***
Kenali dan ketahuilah apa yang telah kita miliki agar air mata tak menetes dan hati tak bersedih disaat kehilangannya. Hmm.. terlalu banyak hal yang telah kita miliki. Hehehe…
Jangan pernah sesali setiap tindakan yang telah kau fikir dengan matang sebelumnya.
Tunduk dan tafakur dalam deraian air mata.
Inginku bersilat lidah dalam lorong penantian panjang ini. Agar resah dan gelisah serta ketakutan itu tak membayang di air muka dan tatapan mata. Namun rasa itu telah meluluh lantakkan semuanya. Persahabatan >:d<
Hmm,… Alhamdulillaahirabbil’alamiin. Teringat nasihat sahabat sejatikoe, “Masa jahiliyah itu telah lama berlalu kawand. Usah diingat dan dikenang hanya karena ingin mengulangi. Mari menjadikannya sebagai nisan pembelajaran untuk hari esok yang jauh lebi…h baik”.

Sengsara membawa nikmat..
Hmm…
Hehehe…

Gelegar membahana di relung qalbu menggema di seluruh rongga tubuh.
Bergetar..
pilu..
huftt..
istighfar..

Air wudhu itu menyejukkan jiwa yang tenang…
semburat fajar kembali menyapa di peraduan jiwa yang tenang,
shubuh menanti di sebalik lelap yang nyenyak setiap insan,
berbahagialah mahkluk yang menang melawan iblis pemberat mata, jiwa dan hati. 

Shalat itu lebih baik dari pada tidur.

 

Kembali normal seperti sediakala,
Alhamdulillahirabbil’alamiin.
(By: My Own)
***
Komitmen untuk kebaikan bersama! HARUS!
Sedekah juga menyelesaikan masalah. Setuju ga?!
(Yes! Saya very setuju, Pak! 😀 )
Mari kita beramal dengan ilmu dan berilmu dengan amal…….!
3 kekuatan penting pada diri kita:
1. Rasa… (enak atau tidak enak),
2. Akal/Pikiran… (benar atau salah),
3. Hati… (baik atau buruk)
…Jalan keluar dari segala masalah adalah Sabar dan Shalat…
Luruskan niat, berusaha saling percaya, berdoa dengan keyakinan. Insya Allah… (senyum).
Bersatu kita teguh. Satukan Visi, Misi dan Tujuan, TERUTAMA SATU HATI…!
JAGA:….. diri, omongan, perilaku/perbuatan, mata dan hati !!!!!

(By: Mr. Hese)


***

Yes! Terima kasih wahai my brother, my lecturer.

 

With love and peace,^^

your sister with beautiful smiles

🙂 🙂 🙂

Rise!

Cahaya putih matahari

Cahaya putih matahari

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu; dan menjadi saudara dalam kesukaran. Karena masa depan sungguh ada; dan harapanmu tidak akan hilang. (Mariama)

Working in a team? I like this so much. Because we can solve any problem and risks that we meet in our activities. Another reason is when we do it by ourself, I think we need more effort than do by team. Beside that, there are many advantages that we get when working by them. We can share our mind together. Then receive input and giving output of us. So that, there is beautiful process that happen, right? And also, we can asking many questions for all people in our team. If we not understand yet, about something that should we understood.

Then, we can get an intrinsic value, too. Because this is very important for us. And we can get it directly. Everytime we wish to. This happen, after knowing that it was overvalued for leaved it. But, on this life is’t easier to applicate it. Because working in a team has risks. Actually, they are coming as an opportunity to growing our mind by thinking them. Yes! After that, we can smiling beautiful when we can solve them.

In my view, everything happen to make us smiling. So, showing our grateful is the best choose to receive it. For our more beautiful smile, why not?. If we are ready to meet with risks, so we are ready to be with our more beautiful smile. Because of I believe that there are pain after gain.

There is a sentence that I ever read about 5 (five) years ago. When I stayed at my home town. “No gain without pain”. And I still remembering it until now. It be one of my supporter to continue my steps. So, I felt that this sentence woke me up, always. Everytime I need.

Beside that, there are another sentences that remembering me in many time. They are my motivators, my inspirators, and my friends also. They are:

  1. Prepare everything before you do it. Do everything while learning it. Learn everything for your more beautiful smiles.
  2. Keep your attitude from your heart, then you can smile on your face.
  3. Change everytime you wish. Move everywhere you will go. After change, you can get your better life. When moving, you can feel happier.
  4. Arrange your words to create your life. Then you will know, who are you?

I believe that all of this sentences are a team in this page, specially. So that, they can solve my problem, that I have before. They can make me smiling now. Because I was arrange many letters to make a word. And create many sentences from that words. This is an interesting activity one that I meet in my life. Yeah, with them, I feel happy. And they are make me smiling beautifully. I wish to be a part of this team.

When we are motivated by goals that have deep meaning, by dreams that need completion, by pure love that needs expression, then we truly live life. (Grey Anderson)

🙂 🙂 🙂

Optimis

Adipura, Bandung

Senyuman optimis dari Bandung ^.(*.*).^

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Legaaaaaaaaa rasanya. Setelah beberapa saat menata halamanhalaman yang sudah lama saya tinggalkan. 😀 Hehee. Ya, itu. Halaman tempat saya berekspresi di waktu-waktu yang sebelum ini. Tenang rasanya berada di sana. Berlama-lama, tentu lebih menyenangkan. Karena di sana, banyaaaaak banget jejak-jejak yang tertinggalkan. Namun, saya hanya boleh sesekali melihatnya. Setelah itu, saatnya kembali menatap ke depan. Untuk melanjutkan perjuangan ini. Mengisi hari dan memanfaatkan waktu. Untuk sementara lamanya, saya akan berada di halaman yang ini dulu aaach. Sampai nanti masa pun berkata, “Saatnya kita berangkat”. So, saya kembali ada di sini. Tentu saja untuk meninggalkan beberapa berkas peristiwa tentang hari ini….. ^^

Monolog:

Iya, sebetulnya memang begitu. Kita perlu belajar untuk memahami. Kemudian menelusurinya pula. Mengapa berbagai kejadian terkadang hadir tanpa pernah kita menyangkanya terlebih dahulu, ya? Seperti yang hari ini saya alami. Tentang persepsi. Begini menyebutnya, tentu lebih baik terasa.

Sungguh. Tidak semua hal perlu kita kerjakan melalui tangan kita sendiri. Karena kita-kita ini, memiliki tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu. Jadi, akan lebih damai rasanya, ketika hanya hal tersebut yang kita upayakan. Bukan yang lain. Sedangkan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lainnya, izinkanlah beliau-beliau yang berkepentingan untuk mengerjakannya. Bukan kita semuanya. Akan tetapi, beliau. Ya, percayakanlah pada beliau. Hal-hal yang memang semestinya beliau selesaikan. Insya Allah, lebih mudah.

Ya, karena sebagai manusia biasa, kita memiliki kemampuan yang belum tentu sama dengan yang lain. Ketika kita ahli dalam satu bidang, bukan berarti kita pun memiliki keahlian pada bidang yang lain. Untuk itulah, pentingnya bekerja sama. Bukankah telah nyata, satu kalimat indah yang pernah kita baca, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing” ini? Intinya, mengaplikasikan sikap tolong menolong dalam hal-hal yang baik adalah ciri pribadi yang menawan.

Iya, begitulah yang terjadi.  Hari ini, senyuman yang menebar dari wajah saya, dapat dihitung jumlahnya.  Sure. Hanya beberapa saja.  Dan saya menyadarinya. Makanya, saya mampir ke halaman ini, sekarang! Untuk tersenyum.  Meski hanya beberapa lama.  Karena, saya ingiiin sangat.  Mengisi hari-hari dengan senyuman.

Oia, sahabat?  Kemudian, saya hanya mau menyampaikan sekilas info: Penting nggak penting siiih. Namun bagi saya, ini sangat penting.  Itu lho, tentang tagline blog ini:

“Ekspresi syukur, mewujud bunga-bunga senyuman hingga senyuman berbunga-bunga (*_^)”

Mengapa saya menulisi kalimat ini?  Salah satu alasannya adalah, agar saya dapat tersenyum ketika membacanya.  Ini terbukti nyata lho.  Setiap kali saya membaca kalimat pada tagline tersebut, saya tersenyuuuuummmm. Senaaaaaang. 😀  Nah, engga penting banget kaannn..? Saya merangkai ini.  Namun apa boleh buat, saya sudah merangkainya.  Biarlah ia abadi selamanya.  Iya, selama-lamanya.

Begini kesimpulan yang dapat saya peroleh dari aktivitas di hari ini. Apakah ada maknanya, yaa..?  *.^-Senyum lagi aach-^.*

🙂 🙂 🙂